• Kebijakan

  • Perdagangan & Investasi

  • Jadwal Pameran

Perkembangan Terkini

Kamis, 09 Mei 2019 00:00

Partisipasi Indonesia dalam International Food and Beverage Trade Show/Salon International de'alimentation (SIAL) 2019

​Toronto, Kanada - Indonesia berpartisipasi dalam pameran Pameran Makanan dan Minuman International Food and Beverage Trade Show/Salon International de'alimentation (SIAL) 2019 dalam rangka peningkatan ekspor produk-produk makanan dan minuman di pasar Kanada. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ottawa bekerjasama dengan Indonesian Trade Promotion Centre Vancouver (ITPC Vancouver) memfasilitasi keikutsertaan sebanyak 6 perusahaan eksebitor dalam pameran makanan dan minuman (Salon International de L'Alimentation) tanggal 30 April-2 Mei 2019 di Toronto, Kanada.

Pameran dimaksud diikuti sekitar 1000 eksebitor yang berasal dari 49 negara, diperkirakan sekitar 18.000-19.000 visitors hadir dalam pameran SIAL 2019.

Salon International de L'Alimentation (SIAL) merupakan pameran terbesar produk makanan di Kanada. Sebagai wadah pertemuan antara buyers, importers, food services, manufactures dan lain-lain terkait bisnis makanan. Pameran ini merupakan program tahunan yang memperkenalkan produk-produk makanan dan minuman serta produk-produk yang terkait dengan produk-produk makanan dan minuman.

Keikurtsertaan Indonesia dalam pameran dimaksud sangat penting dalam rangka meningkatkan ekspor produk-produk makanan dan minuman Indonesia ke Kanada. Pameran pada tahun 2019  merupakan penyelenggaraan yang ke-16 di Toronto.

Perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi dalam pameran SIAL dimaksud yaitu PT. Eragano Agritech Indonesia, PT. Rodamas Inti International, Jan Enterprises Corporation, PT. Mayora Indah Tbk, PT. Infofood Sukses Makmur, PT. Mustika Ratu Tbk Taman Sari Royal Heritage Kanada. Semua perusahaan dimaksud mempromosikan produk-produk makanan dan minuman Indonesia.

Melalui pameran dimaksud para eksebitor Indonesia masing-masing mempromosikan produk-produk unggulannya seperti keripik singkong, keripik kentang, keripik buah naga, permen kopi, santan kelapa, tepung goreng, minuman, indomie goreng dan sebagainya.

Pada Pameran SIAL 2019, pejabat KBRI Ottawa yg hadir mendampingi para eksebitor Indonesia adalah Atase Perdagangan, Christhophorus Barutu dan Koordinator Fungsi Ekonomi, Yulastiawarman Zakaria.

Atase Perdagangan KBRI Ottawa, Christhophorus Barutu menyampaikan bahwa pasar Kanada merupakan pasar potensial bagi  produk-produk makanan dan minuman Indonesia, mengingat  demand terhadap produk-produk dimaksud yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. Atase Perdagangan KBRI Ottawa mendorong para pelaku usaha makanan dan minuman Indonesia untuk menjaga/meningkatkan kualitas dan inovasi produk serta memenuhi ketentuan food safety Kanada yang menjadi prioritas konsumen Kanada dalam rangka mendapatkan pangsa pasar yang signifikan di pasar Kanada terkait produk makanan dan minuman.

Para eksebitor produk makanan dan minuman Indonesia yg berpartisipasi dalam pameran dimaksud menyampaikan apresiasi terhadap Pemerintah Indonesia atas fasilitasi dan kesempatan yang diberikan dalam rangka keikutsertaan dalam pameran dimaksud.​ (c.barutu ed)

Rabu, 08 Mei 2019 00:00

CPOPC Menentang Delegated Act Uni Eropa terhadap Kelapa Sawit

Brussels, 8 April 2019: Misi Bersama Dewan Negara Produsen Minyak Sawit (CPOPC) tengah berada di Brussels, Belgia dari 8 hingga 9 April 2019. Misi ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan Pertemuan Tingkat Menteri CPOPC ke-6 yang telah diselenggarakan pada 28 Februari 2019 di Jakarta, Indonesia, untuk secara tegas menentang Delegated Regulation Supplementing Directive 2018/2001 of the European Union Renewable Energy Directive II (Delegated Act) dan membuka dialog dengan para pemimpin UE untuk mengungkapkan keprihatinan negara-negara anggota CPOPC. Pertemuan menghasilkan kesepakatan untuk bersama-sama membahas langkah-langkah diskriminatif otoritas UE yang timbul akibat Delegated Act.

Negara Anggota CPOPC menganggap Delegated Act sebagai kompromi politik UE untuk mengisolasi dan menyingkirkan minyak sawit dari sektor energi terbarukan mandatnya untuk menguntungkan minyak rapa produksi UE dan minyak nabati terbarukan lain yang kurang kompetitif. Dalam pandangan kami, usulan Delegated Act ini dimaksudkan untuk membatasi dan secara efektif melarang penggunaan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar hayati di UE dengan berdasar pada konsep penggunaan lahan secara tidak langsung (Indirect Land Use Change/ILUC) yang cacat ilmiah.

Delegated Act menggunakan kriteria tak berdasar yang di satu sisi sengaja berfokus pada minyak sawit dan deforestasi, sementara di sisi lain tidak berupaya mempertimbangkan masalah lingkungan lebih luas yang terkait dengan budidaya minyak nabati lainnya, termasuk minyak rapa.

Selain itu, Delegated Act dalam pandangan CPOPC merupakan sebuah instrumen unilateral yang menarget produsen minyak sawit, sehingga dengan demikian menghalangi pencapaian target pengentasan kemiskinan dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) PBB lainnya.

CPOPC sangat menentang Delegated Act yang mengategorikan minyak sawit tidak berkelanjutan karena berisiko tinggi untuk menggunakan lahan secara tidak langsung. CPOPC berpendapat bahwa UE menggunakan Delegated Act ini untuk menyingkirkan minyak sawit dan memberlakukan larangan impor minyak sawit ke dalam sektor energi terbarukan mandatnya untuk mempromosikan minyak nabati produksi UE. CPOPC telah secara tegas menyuarakan keprihatinan bahwa asumsi-asumsi itu dibuat berdasarkan kriteria yang tak akurat dan diskriminatif secara ilmiah.

Klaim yang dibuat oleh Komisi Eropa bahwa Delegated Act didasari alasan ilmiah dan lingkungan tidaklah tepat. Minyak kedelai, contohnya, dikategorikan berisiko rendah meskipun penelitian internal UE sendiri telah membuktikan bahwa minyak kedelai bertanggung jawab atas jauh lebih banyak “deforestasi impor".

Hal ini menjadikan keseluruhan Delegated Act sebagai bahan pertanyaan, dan terdapat kemungkinan bahwaa Delegated Act berdasar lebih pada proteksionisme politik dan ekonomi daripada sains. CPOPC menganggap ini sebagai strategi ekonomi dan politik yang berencana dan merugikan untuk menyingkirkan minyak kelapa sawit dari pasar UE.

Misi ini dipimpin bersama oleh H.E. Darmin Nasution, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. Malaysia diwakili oleh Dato' Dr. Tan Yew Chong, Sekretaris Jenderal Kementerian Industri Utama Malaysia. Kolombia, sebagai pengamat, diwakili oleh H.E. Felipe Garcia Echeverri, Duta Besar Kolombia untuk Belgia dan Kepala Misi Kolombia untuk Uni Eropa.

Selasa, 07 Mei 2019 00:00

Wapres RI, Bapak Jusuf Kalla dengan Wapres Argentina, Gabriela Michetti Sepakat Tingkatkan Kerjasama di Bidang Perdagangan, Investasi dan Pertanian

Jakarta: Wakil Presiden, M. Jusuf Kalla hari ini tanggal 7 Mei 2019 menerima kunjungan resmi Wakil Presiden Argentina, Gabriella Michetti di Istana Wakil Presiden, di Jakarta.

 Ini merupakan kunjungan pertama Wakil Presiden Argentina ke Indonesia sejak pembukaan hubungan diplomatik tanggal 30 Juni 1956. Selain Duta Besar Argentina di Jakarta, Ricardo Bocolandro, beberapa pejabat tinggi dari Departemen Luar Negeri, Departemen Pertanian dan Depertemen Perdagangan Argentina juga ikut serta dalam pertemuan dengan Wapres Kalla.

Dalam pertemuan ini, kedua Wapres sepakat untuk meningkatkan kerjasama di bidang perdagangan, investasi dan pertanian. Wapres Kalla menjelaskan bahwa Argentina merupakan mitra perdagangan terbesar kedua bagi Indonesia di Kawasan Amerika Selatan dan Indonesia ingin terus meningkatkan perdagangan dengan Argentina.

Tahun 2018 lalu, total perdagangan kedua negara mencapai 1,68 miliar, dengan defisit mencapai 1,2 miliar di pihak Indonesia. “Saya mendorong agar kita dapat mencapai perdagangan yang lebih seimbang dan saling menguntungkan", jelas Wapres Kalla.

Untuk mencapainya, Indonesia menawarkan produk industri strategis Indonesia, yaitu pesawat terbang produksi PT. Dirgantara Indonesia. Selain itu, Wapres Kalla juga meminta agar Argentina terus mengurangi berbagai hambatan perdagangan baik tarif dan non-tarif. Dalam rangka menyeimbangkan neraca perdagangan, Wapres meminta akses pasar bagi buah Indonesia, seperti buah tropis dan kacang-kacangan yang kompetitif di pasar Argentina.

Untuk meningkatkan hubungan perdagangan, Wapres Kalla mengundang pengusaha Argentina untuk hadir di kegiatan Indonesia-Latin American and the Caribbean Bisnis Forum dan Trade Expo Indonesia (TEI).

Di bidang pertanian, Indonesia dan Argentina sudah membentuk Working Group on Agricultural Cooperation (WGAC) yang telah menghasilkan Rencana aksi kerjasama. Dalam bidang ini, Indonesia ingin mengembangkan kerja sama terkait pengembangan sistem teknologi pertanian.

Hal ini disambut baik oleh Wapres Michetti yang mengakui besarnya potensi kerja sama di bidang perdagangan dan investasi, serta berkeinginan untuk menerjemahkan potensi tersebut ke dalam bentuk kerja sama yg bersifat strategis.

Secara khusus, Wapres Michetti berkeinginan untuk mendorong kerjasama teknik dalam kerangka kerjasama Selatan-Selatan. Wapres meyakini bahwa kerja sama teknik kedua negara dapat menjadi pintu menuju kerja sama yg lebih besar. Wapres Michetti juga menyampaikan keinginannya untuk melakukan kerjasama dengan Indonesia di sektor industri makanan halal.

Dalam kunjungannya ini, Wapres Michetti juga akan melakukan pertemuan dengan kalangan pengusaha Indonesia untuk lebih jauh menggali potensi kerjasama.

Topik lainnya yang juga dibahas dalam kunjungan Wapres Argentina mencakup pemberdayaan dan kebijakan terkait penyandang disabilitas. Wapres Argentina dijadwalkan akan bertemu dengan komunitas penyandang disabilitas Indonesia di Kantor Kementerian Sosial tanggal 8 Mei 2019 esok. Wapres Argentina mengundang Indonesia utk berpartisipasi dalam kegiatan Pertemuan tingkat tinggi bagi penyandang disabilitas, Disability Summit, yang akan berlangsung di Buenos Aires tanggal 6-8 Juni 2019.

Senin, 06 Mei 2019 00:00

Forum Bisnis Indonesia-Turki Buka Peluang Ekspor Lada dan Produk Kimia Turunan Kelapa Sawit Indonesia


Istanbul, Turki - Turki dan Indonesia harus senantiasa mendorong kedua komunitas bisnis untuk lebih saling mengenal satu sama lain serta menjalin kegiatan bisnis lebih intensif dan menguntungkan kedua pihak. Demikan hal tersebut ditekankan oleh Herry Sudradjat Konjen RI Istanbul dan Ilhan Erdal, Ketua Dewan Bisnis Turki-Indonesia DEIK.

Dalam forum yang berlangsung tanggal 29 April 2019 di Istanbul, hadir sekitar 60 pengusaha Turki serta narasumber dari Indonesia Rapolo Hutabarat, Ketua Umum Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN)  sekaligus mewakili Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia dan Ibu Sulfi wakil Pemerintah Kabupaten Luwu Timur didampingi produsen lada Luwu Timur.

Pada kesempatan presentasi, Konjen Herry Sudradjat menyampaikan update perekonomian Indonesia serta berbagai peluang bisnis yang ada di Indonesia, utamanya sebagai negara sumber impor bagi Turki untuk beberapa komoditi unggulan seperti karet, teh, kopi, hasil laut, benang tekstil, produk kehutanan. Disamping itu diilakukan perkenalan  website www.endonezyaurunleri.com yang dibentuk KJRI Istanbul dan berisi data informasi perusahaan dan produk ekspor Indonesia dalam bahasa Turki.

Ketua APOLIN  dalam paparannya menjelaskan mengenai produk industri kelapa sawit Indonesia yang banyak diimpor industri Turki serta sifatnya yang ramah lingkungan.  Sementara itu wakil Kabupaten Luwu menyampaikan penjelasan mengenai daerahnya sebagai salah satu sentra produksi lada berkualitas di Indonesia.

Kegiatan ini telah membawa hasil pembicaraan bisnis diantaranya  tiga importir lada Turki dengan produsen lada Luwu Timur untuk menjajaki impor lada dari Luwu.Salah satu importir bahkan merencanakan untuk meninjau langsung lokasi perkebunan dalam waktu dekat. Sementara itu institusi ekonomi Turki DEIK menyampaikan komitmennya untuk memfasilitasi komunikasi antara industri makanan dan kosmetik Turki dengan APOLIN terkait produk stearic acids - oleochemical.

Dipilihnya produk terkait kelapa sawit dan lada dalam Forum Bisnis ini didasari pertimbangan keduanya merupakan produk yang memiliki prospek di pasar Turki di masa depan.

Tercatat ekspor terkait kelapa sawit  Indonesia ke Turki mengalami kenaikan dari 79,5 ribu ton (2016) menjadi 306,2 ribu ton (2018). Untuk produk turunan kelapa sawit (stearic acid, fatty acid dll  - kode HS 3823) Indonesia  memiliki pangsa pasar Turki sekitar 28% dengan nilai ekspor USD 24,3 juta  sementara impor Turki dari seluruh dunia adalah USD 94,5 juta. Adapun untuk ekspor lada Indonesia ke Turki masih di bawah  USD 101 ribu  tahun 2018 sementara impor Turki dari seluruh dunia lebih dari USD 12 juta. Adapun kemampuan ekspor Indonesia tahun tersebut adalah USD 156 juta di tahun 2018.

Dalam rangka upaya perumusan strategi penetrasi pasar yang lebih efektif di Turki untuk kedua produk tersebut, KJRI Istanbul akan bekerjasama dengan lembaga konsultan di bidang market research yang salah satu hasilnya adalah rekomendasi sejumlah perusahaan terpilih di Turki yang memiliki potensi besar untuk mengimpor produk lada (hitam dan putih) serta produk kiimia turunan kelapa sawit (stearic acids-oleochemical).

Halaman 1 dari 35